Persaingan pasar

pasar modern mengutamakan pelayanan yang menyenangkan, bangunannya baik, tempatnya nyaman segala kebutuhan pembeli diperhatikan, mulai dari parkir dan sarana lain, namun pembeli tidak perlu berinteraksi dengan penjual, sehingga komunikasi sosial tidak terjadi. Di dalam pasar tradisional sebagian besar sebagai pasar eceran (retail), di mana pembeli mencari barang sesuai kebutuhan sendiri. Sedangkan pasar modern diidentikkan sebagai pasar grosir, pembeli membeli barang dalam partai besar karena akan dijual lagi. Namun saat ini telah banyak yang dirancang sebagai pasar grosir, juga berdagang layaknya pasar eceran (retail), Nampaknya perdagangan eceran dan grosir sudah sulit dipisahkan, sehingga segmentasi pembeli pada pasar tradisional dan pasar modern sudah bercampur baur, tidak lagi pasar modern diidentikan dengan pembeli golongan menengah ke atas, sedangkan pasar tradisional golongan menengah ke bawah.

Persaingan antar peritel di dunia pasar sebenarnya tidak sesederhana yang dibayangkan orang. Persaingan tidak hanya terjadi antara yang pedagang besar melawan pedagang kecil, melainkan juga antara pedagang yang besar dengan yang besar, serta pedagang yang kecil dengan yang kecil. Pemerintah sebagai regulator harus mampu mewadahi semua aspirasi yang berkembang tanpa ada yang merasa dirugikan khususnya dimata masyarakat. Pemerintah harus mampu melindungi dan memberdayakan peritel kelas bawah karena jumlahnya yang mayoritas. Di lain pihak, peritel besar pun mempunyai sumbangan besar dalam ekonomi. Selain menyerap tenaga kerja, banyak peritel besar yang justru memberdayakan dan meningkatkan kualitas ribuan pemasok yang umumnya juga pengusaha kecil dan menengah. Belum lagi konsumen yang kian senang menjadi raja yang dimanja. Bagi pemerintah, mencari keseimbangan antara yang besar dan yang kecil ini memang tidak mudah, hal ini terlihat dari semakin berkembangnya pasar modern di antero kota-kota.