Kehidupan Ekonomi

Konflik Relasi Bukan Berarti Fathner Bisnis

Situasi ekonomi diIndonesia saat ini dapat dikatakan sebagai ekonomi parasit, karena persaingan saat ini sangat ketat, masyarakat biasanya banyak yang menghalalkan segala cara demi mencapai keuntungan semaksimal mungkin tanpa berpikir dampak yang akan terjadi. Dibawah ini contoh kasus persaingan parasit dalam suatu perusahaan.

Pada pertengahan tahun 2006, keluarga kami berniat mendirikan sebuah perusahaan yang bergerak dibidang dealer perumahan dikota cianjur yang bernama PT.Taupi Abadi. Disitu ayah saya menjabat sebagai direktur utama perusahaan tersebut. Ayah saya mendirikan perusahaan tersebut dengan menjalin kerjasama dengan teman relasinya. Lambat laun perusahaan tersebut mulai berjalan dan dapat dikatakan Alhamdulillah lancar, namun ayah saya tidak sepenuhnya intens memegang perusahaan itu karena pekerjaan utamanya adalah seorang wiraswasta yang bergerak dibidang jasa pemotongan daging sapi. Ayah saya menyerahkan tanggung jawabnya kepada kakek saya dan adiknya selama ayah saya berada di bogor dan mengurusi pekerjaan yang ada di bogor. Seminggu 2 sampai 3 kali ayah bolak-balik bogor-cianjur untuk memantau perkembangan disana dan ayah memiliki tanggung jawab sebagai seorang direktur. Sebelum mendirikan perusahaan ini ayah memiliki pikiran kalau perusahaan ini hanyalah usaha sampingan karena ayah lebih memilih atau mengutamakan pekerjaan yang dibogor, padahal kalau dihitung-hitung penghasilan sebagai seorang direktur lebih besar daripada hanya seorang jasa pemotongan sapi, tapi ayah memiliki alasan tersendiri tentang ini, dan alas an tersebut benar-benar logis. Ayah berpikiran pekerjaan yang di bogor lebih dekat dengan keluarga besar dan ayah ingin melihat perkembangan anak-anaknya. Sedikit demi sedikit konflik pun muncul, teman relasi ayah yang saat itu menjabat sebagai bendahara perusahaan mulai tidak bertanggung jawab, padahal dia sudah dipercaya oleh keluarga besar ayah. Setelah perusahan ini berjalan kurang lebih baru seumur jagung yaitu 1 tahun, saham keluarga dibawa kabur oleh bendahara perusahaan itu sebesar RP 100jt. Kontan keluarga besar menjadi syok. Memang tidak bisa dipungkiri juga, bendahara perusahaan ayah seperti itu karena merasa ada kesempatan, dan melihat ayah serta anggota keluarga lain sudah percaya sepenuhnya, hanya ibu saja yang terlihat dari awal mendirikan perusahaan tersebut berulang kali mengingatkan ayah agar jangan mudah percaya dengan relasi, dan betul ini menjadi kenyataan. Ayah pun menyadari ayah memiliki peran dalam musibah tersebut, selain sistemnya yang kurang, ayah pun tidak bisa sepenuhnya intens diperusahaan. Setelah dicari keberadaan bendahara ayah, ternyata dia sudah pergi keluar kota. Ayah berniat ingin menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan, karena ayah masih menganggap itu relasi atau teman bisnisnya yang sudah dianggap keluarga.

Hingga akhirnya ayah menyerah dan melaporkan semuanya kepada pihak yang berwajib (Polisi). Kurang lebih 7-8 bulan dia menjadi buronan, dan akhirnya tertangkap. ayah hanya bisa pasrah dan berpikir semua kejadian ini pasti ada hikmahnya.

Jangan mudah percaya dengan orang, sekalipun itu sudah seperti keluarga sendiri tetap saja relasi bukan berarti teman bisnis, apalagi faktor utamanya adalah masalah financial.