Kehidupan sosial

Konflik internal walikelas dan muridnya

Konflik dalam suatu organisasi merupakan hal yang wajar, apalagi dalam organisasi setidaknya diperlukan suatu visi, misi serta tujuan yang sama. Maka setiap individu memiliki pendapat yang berbeda-beda, dari situlah awla konflik terjadi biasanya. Berbeda dengan konflik yang akan dijabarkan dalam kasus dibawah ini, ternyata tidak pernah terbayang ada dalam era globalisasi yang seperti sekarang ini disuatu sekolah memiliki konflik internal antara walikelas dan muridnya hanya karena tidak profesionalnya seorang walikelas yang mementingkan perasaan anaknya, daripada kewajiban walikelas terhadap anak didiknya.

Saat saya memasuki kelas 3 SMA di salah satu sekolah swasta di Bogor. Saya masuk dikelas 3 IPA 1, disekolah saya terdiri dari 4 kelas IPA dan 3 kelas IPS. Secara kebetulan wali kelas saya seorang guru bahasa Indonesia, spontan secara pribadi saya senang karena disekolah saya guru bahasa Indonesia lebih terkenal akrab dengan seluruh anak didiknya, tidak hanya menjadi figur seorang guru, tetapi bisa dijadikan teman share tentang pelajaran atau apapun. Itu pandangan awal saya tentang wali kelas, ternyata pandangan positif saya selama ini tentang wali kelas pun berbanding terbalik saat konflik intern terjadi. Sikap wali kelas saya pun bisa dibilang tidak propesional sebagai seorang guru, bagaimana tidak mana ada seorang guru atau wali kelas pilih kasih hanya karena masalah pribadi. Awalnya saya masih berpikiran positif tentang sikap wali kelas saya walaupun sedikit demi sedikit sikapnya berubah kepada saya maupun teman-teman yang lain, hanya saja sikap pilih kasih dia lebih spesifik kepada saya. Konflik itu terjadi hanya karena wali kelas saya tidak suka “jelous” kepada saya karena saya memiliki 2 orang sahabat laki-laki dan kami terkesan seperti kakak adik. Yang jadi masalah adalah salah satu sahabat saya atau kakak saya itu memiliki fisik yang ganteng, pintar, dan populer dengan baik dan sopannya. Siapa yang tidak senang dengan laki-laki seperti itu, kakak saya pun menjadi rebutan di sekolah. Nah wali kelas saya berniat menjodohkan anaknya dengan sahabat atau kakak saya itu, dan wali kelas saya akan melakukan apa saja agar kakak-kakak saya itu menjauh dari kehidupan saya. Astagfirullah, mana ada wali kelas seperti itu, tapi itu lah kisah yang benar-benar terjadi, sampai-sampai saya difitnah, dan terkesan ingin menjatuhkan saya hanya karena alasan wali kelas saya itu adalah “ibu takud anak ibu cemburu dengan kedekatan kamu dan kakak kamu, karena kalian terlihat lebih dari seorang sahabat, teman ataupun kakak. Dan ibu takut kalau perhatian kakak kamu lebih spesifik ke kamu daripada anak ibu”. Itu kata-kata wali kelas kepada saya. Kata-kata itu sampai kapanpun akan selalu terngiang ditelinga saya.

Saya hanya bisa menangis, karena kaget dan tidak habis pikir seorang wali kelas bersikap seperti itu kepada anak muridnya. 1 yang ada dipikiran saya saat itu, pengen cepat lulus dan meninggalkan sekolah itu, tapi itu tidak menyelesaikan masalah. Sampai akhirnya solusi dari konflik intern itu adalah saya tetap menghargai dan berusaha profesional serta berfikir positiv karena gimana pun sikap wali kelas saya, dia tetap berjasa buat saya. Semua permasalahan atau konflik ini saya menganggap ini adalah proses pendewasaan saya. Makasih buat masalah ini yang pernah ada di kehidupan saya.